Senin, 28 September 2009

Something About Kaka

Udah lama nggak nge Bolog nie, bingung juga mau nulis apa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengutip artikel yang ada di salah satu forum. Ini dia isinya.

"Profesi ini dilakoni mereka semenjak cilik sampai beranjak remaja. Melalui seleksi alam, beranjak dewasa, sebagian dari mereka mulai “naik kelas” dengan menjadi pemungut bola di driving range.

Bagaimana ketika setelah berkeluarga ? Yah, dengan sedikit keberuntungan, boleh jadi mereka mendapatkan kesempatan menjadi caddie ataupun pelatih golf di kawasan tersebut.

Do they have a choice ? I don’t think so.

Kesempatan terlahir dalam kondisi keluarga yang sulit dan serba tak mampu, memaksa mereka untuk melupakan mimpi idealis yang sering mengganggu nurani. Memperpanjang hidup lewat mengisi perut dan mencari rupiah, pelan tapi pasti terus mengakar dalam pikiran dan tindakan hidup sehari-hari.

Soekarno pernah berucap bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan asal usulnya masing-masing. Sebuah ucapan mahatinggi yang dapat diresapi dalam diri setiap individu, tentu jika mereka merenungkan sejenak apa makna dari pepatah tersebut.

Pada prinsipnya, ucapan syukur atas talenta dan menghargai hidup itu sendiri, merupakan sebuah tindakan ampuh bagi seseorang untuk tidak menyia-nyiakan hidupnya. Rasa syukur tersebut juga dapat memotivasi seseorang untuk dapat berbagi ke orang-orang yang membutuhkan.
Ricardo Izecson dos Santos Leite a.k.a Kaka adalah representasi orang penuh rasa syukur. Tidak seperti kolega-koleganya macam Ronaldinho dan Daniel Alves yang hidup terbuang di jalanan, Kaka terlahir dalam keluarga kelas menengah. Dirinya beruntung mengenyam pendidikan, di saat teman-teman seangkatannya mulai menggeluti kerasnya kehidupan.

Meski demikian Kaka tak pernah gelap hati. Sikap hidup yang membumi membuat Kaka unggul dalam pribadi dan terdepan dalam kualitas permainan. Bakat yang didapat bagi dirinya adalah mujizat.

Sejarah hidupnya tidak selalu nikmat, Kaka pernah divonis cacat tulang punggung, di umurnya yang 18 tahun dalam sebuah kecelakaan di kolam renang. Suatu kejadian yang justru menjadi titik balik hidupnya.

Kaka remaja berpendapat bahwa “Everything came for a reason…..”. Vonis cacat pada akhirnya dilalui dengan baik waktu demi waktu, sampai akhirnya dirinya sembuh total.

Kaka menyadari bahwa semua kejadian yang dialaminya adalah hikmah kehidupan. Dan sebagai ucapan terima kasih, setiap kali mencetak gol, Kaka akan mengangkat kedua tangannya, sambil menengadah ke atas seraya mengucapkan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam kesempatan lainnya, tak jarang Kaka akan membuka jerseynya dan menampakkan baju dalamnya yang bertuliskan ungkapan-ungkapan religius.

Kaka sadar dan percaya, bahwa bakat yang dimilikinya adalah semata-mata karunia sang pencipta. Dirinya hanyalah perpanjangan tangan Yang Maha Esa, untuk memberikan hiburan, berbagi saluran berkat dan talenta dengan semua pelaku olahraga sepakbola.

Kaka berharap semoga permainannya di lapangan dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari mampu menginspirasi semua orang di dunia, tanpa pandang bulu.

Inspirasi yang bukan hanya menjadi penghibur mata dalam 2×45 menit, melainkan inspirasi sepanjang hayat, memotivasi orang, untuk mau bekerja keras, untuk tetap bersyukur, bahwa pada akhirnya semua itu ada jalannya."



Itulah sedikit tentang Kaka, maaf kalau ada yang kurang berkenan.

Sabtu, 13 Juni 2009

Persipura Sang Juara

Setelah melewati kompetisi yang sangat melelahkan, akhirnya sang mutiara hitam membawa pulang kembali Pala Presiden ke ranah Papua, setelah pada pertndinganyang tidak menentukan lagi melawan sriwijaya Fc. dengan skor 4-1.
Persipura memang sungguh luar biasa musim ini. Tim Mutiara Hitam itu sukses merebut gelar juara Liga Super Indonesia di musim pertama ISL. Keberhasilan Persipura semakin komplit dengan gelar individu yang direbut striker Boaz Solossa. Ujung tombak berusia 23 tahun itu menyabet dua gelar individu bergengsi.

Sepanjang musim ini penampilan Persipura sungguh brilian. Dalam 34 pertandingan, anak asuhan pelatih Jacksen F. Tiago itu mencatat 25 kali menang, 5 seri dan 4 kali menelan kekalahan. Persipura kokoh di puncak klasemen dengan 80 poin.

Pesta kemenangan Persipura semakin lengkap berkat kemenangan pada laga terakhir di kandang. Bermain di Stadion Mandala, Jayapura, Rabu (10/6), tuan rumah meraih poin penuh setelah menang 4-1 atas juara bertahan Sriwijaya FC.

Empat gol Persipura dicetak oleh Albeto "Beto" Goncalves di menit 23, Ernest Jeremiah 38' dan dua gol dari Boaz di menit 64 dan 67. Gol tunggal Sriwijaya dicetak Budi Sudarsono empat menit jelang laga usai.

Tambahan sepasang gol membuat Boaz menduduki puncak pencetak gol terbanyak bersama striker Persib Bandung, Christian Gonzales. Gol tunggal Gonzalez saat membawa Persib menang 2-1 atas Persija Jakarta membuat koleksi golnya sama dengan Boaz. Keduanya masing-masing total mengoleksi 28 gol.

Selain menyabet gelar pemain tersubur. Boaz semakin mengukuhkan dirinya sebagai bintang musim ini dengan merebut gelar Pemain Terbaik. Kepastian terpilihnya Boaz sebagai best player of the seasion diumumkan usai pertandingan terakhir Liga Super Indonesia.

Yang bisa saya ucapkan hanya BRAVO PAPUA.....!!!

Kamis, 14 Mei 2009

Lazio is Back

Bulan ini memang bulan yang paling menyenangkan bagi saya, disamping akan bertamasya ke Bali, bulan ini para Laziale termasuk saya, dihadiahi kado manis oleh Lazio yaitu Piala Italia.

Stadion Olimpico menjadi saksi keberuntungan Lazio dalam meraih piala Copa Italia musim ini. Dalam laga puncak tersebut Lazio harus melalui drama adu tendangan penalti sebelum akhirnya keluar sebagai juara dengan mengandaskan Sampdoria.

Pertandingan yang digelar kamis (14/5/2009) dini hari WIB tersebut berjalan seru dan alot sejak menit awal. Kedua tim memperagakan permainan terbuka namun tetap waspada pada pertahanan.

Lazio mampu unggul lebih dulu melalui gol cepat Mauro Zerate ketika pertandingan baru memasuki menit kelima ketika tendangan kerasnya tidak mampu diblok kiper Luca Castelazzi.

Sampdoria tidak menyerah begitu saja, mereka gantian menekan. Akhirnya pada menit ke 31 Il Samp berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Adalah stiker handal Giampaolo Pazzini yang mampu menggetarkan gawang Lazio yang dijaga Fernando Musrela melalui kepalanya.
Setelah gol tersebut, pertandingan berjalan melambat. Kedudukan 1-1 bertahan hingga turun minum babak pertama. Di babak kedua baik Sampdoria maupun Lazio mencoba menekan dan membuat prahara di barisan pertahanan lawan. Namun hingga akhir menit ke 90 tidak ada gol tercipta. Hal ini memaksa pertandingan dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu.

Di perpanjangan waktu pertama, Cassano punya peluang membawa timnya menjadi juara. Sayang tendangannya masih berada tipis di atas mistar gawang Lazio. Hasil 1-1 juga tak berubah hingga 15 menit pertama usai.
Di perpanjangan waktu kedua, Cassano kembali membuka peluang. Namun sayang crossing ke depan gawang gagal dimanfaatkan dengan baik oleh rekannya bola melenceng melebar di samping gawang Lazio.

Pertandingan akhirnya harus ditentukan lewat adu penalti karena skor masih tetap tidak berubah. Cassano yang menjadi eksekutor pertama bagi Sampdoria berhasil digagalkan oleh Muslera. Kiper Lazio asal Uruguay ini juga berhasil mengagalkan tendangan Hugo Campagnaro. Ousmane Dabo akhirnya menjadi penentu kemenangan Lazio 6-5 dalam drama adu penalti tersebut.

Saya hanya bisa mengucapkan FORZA LAZIO...!!!

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com