Udah lama nggak nge Bolog nie, bingung juga mau nulis apa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengutip artikel yang ada di salah satu forum. Ini dia isinya.
"Profesi ini dilakoni mereka semenjak cilik sampai beranjak remaja. Melalui seleksi alam, beranjak dewasa, sebagian dari mereka mulai “naik kelas” dengan menjadi pemungut bola di driving range.
Bagaimana ketika setelah berkeluarga ? Yah, dengan sedikit keberuntungan, boleh jadi mereka mendapatkan kesempatan menjadi caddie ataupun pelatih golf di kawasan tersebut.
Do they have a choice ? I don’t think so.
Kesempatan terlahir dalam kondisi keluarga yang sulit dan serba tak mampu, memaksa mereka untuk melupakan mimpi idealis yang sering mengganggu nurani. Memperpanjang hidup lewat mengisi perut dan mencari rupiah, pelan tapi pasti terus mengakar dalam pikiran dan tindakan hidup sehari-hari.
Soekarno pernah berucap bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan asal usulnya masing-masing. Sebuah ucapan mahatinggi yang dapat diresapi dalam diri setiap individu, tentu jika mereka merenungkan sejenak apa makna dari pepatah tersebut.
Pada prinsipnya, ucapan syukur atas talenta dan menghargai hidup itu sendiri, merupakan sebuah tindakan ampuh bagi seseorang untuk tidak menyia-nyiakan hidupnya. Rasa syukur tersebut juga dapat memotivasi seseorang untuk dapat berbagi ke orang-orang yang membutuhkan.
Ricardo Izecson dos Santos Leite a.k.a Kaka adalah representasi orang penuh rasa syukur. Tidak seperti kolega-koleganya macam Ronaldinho dan Daniel Alves yang hidup terbuang di jalanan, Kaka terlahir dalam keluarga kelas menengah. Dirinya beruntung mengenyam pendidikan, di saat teman-teman seangkatannya mulai menggeluti kerasnya kehidupan.
Meski demikian Kaka tak pernah gelap hati. Sikap hidup yang membumi membuat Kaka unggul dalam pribadi dan terdepan dalam kualitas permainan. Bakat yang didapat bagi dirinya adalah mujizat.
Sejarah hidupnya tidak selalu nikmat, Kaka pernah divonis cacat tulang punggung, di umurnya yang 18 tahun dalam sebuah kecelakaan di kolam renang. Suatu kejadian yang justru menjadi titik balik hidupnya.
Kaka remaja berpendapat bahwa “Everything came for a reason…..”. Vonis cacat pada akhirnya dilalui dengan baik waktu demi waktu, sampai akhirnya dirinya sembuh total.
Kaka menyadari bahwa semua kejadian yang dialaminya adalah hikmah kehidupan. Dan sebagai ucapan terima kasih, setiap kali mencetak gol, Kaka akan mengangkat kedua tangannya, sambil menengadah ke atas seraya mengucapkan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam kesempatan lainnya, tak jarang Kaka akan membuka jerseynya dan menampakkan baju dalamnya yang bertuliskan ungkapan-ungkapan religius.
Kaka sadar dan percaya, bahwa bakat yang dimilikinya adalah semata-mata karunia sang pencipta. Dirinya hanyalah perpanjangan tangan Yang Maha Esa, untuk memberikan hiburan, berbagi saluran berkat dan talenta dengan semua pelaku olahraga sepakbola.
Kaka berharap semoga permainannya di lapangan dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari mampu menginspirasi semua orang di dunia, tanpa pandang bulu.
Inspirasi yang bukan hanya menjadi penghibur mata dalam 2×45 menit, melainkan inspirasi sepanjang hayat, memotivasi orang, untuk mau bekerja keras, untuk tetap bersyukur, bahwa pada akhirnya semua itu ada jalannya."






